kotak bersuara membahas soal pertanda.topik berat petang ini. harusnya aku menyeruput kafein, hisap nikotin dan nikmati matahari tenggelam saja.lalu pandangan terpusat ke layar 8.9 inchi.satu persatu kubuka kotak berpesan.hingga kotak terakir yang sudah bertahun-tahun usianya.perlahan aku baca tulisan bercetak tebal dan miring itu.sesapi perlahan seperti saat pertama membacanya.
tak ada yang istimewa dari kisah ini, begitu baca ku di tengah-tengah barisan itu.
ada kalimat berbunyi dan bilang tau apa rasany jauh dari ku.
aku hanya hadir apa adanya, selalu begitu.
tapi yg berdiri di seberangku saat itu, entah.
[apakah aku yang hadir apa adanya jadi terlalu biasa buatmu wahai pecundang?]
semua digilas roda besi, lumat, persetan, nyinyir.
sudah bukan urusan ku tentang langkah-langkah kaki itu
tak ada lagi itu.
di akhir baris,
jangan lupakan aku, itu saja...
tapi,
aku harus lupa, bahkan berharap amnesia
[di bagian itu]
.......
matahari sudah ditelan gelap malam
malam gelap itu aku
hanya ada satu bintang.karena langit ibu kota.entah kemana bintang-bintang terhisap.
tidak ada "Lalu apa?"
sampai sini saja.
.time to say gudluck.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar